TUGAS TERSTRUKTUR
MANAJEMEN KESUBURAN TANAH
“PENGELOLAAN LAHAN
PERTANIAN DAN EMISI GAS RUMAH KACA”
“Makalah ini disusun untuk melengkapi nilai UTS mata kuliah
Manajemen Kesuburan Tanah”
| Add caption |
Oleh:
Nama :
Alnguda Firokhman
Nim :
105040200111154
Kelas :
D
PRODI :
Agroekoteknologi 2010
Dosen :
Prof. Dr. Ir. Soemarno, Ms.
PROGRAM
STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK), pengaruhnya terhadap pemanasan
global yang terjadi pada 50 tahun terakhir banyak disebabkan oleh aktivitas
manusia. Berbagai kegiatan pertanian, seperti adanya pengolahan tanah,
pengairan dan pemupukan pada lahan lahan pertanian merupakan kegiatan manusia
terbesar saat ini yang menyebabkan meningkatnya emisi GRK berupa gas CO2, CH4, dan N2O. Dilaporkan, pada
skala global, kegiatan pertanian telah berkontribusi sekitar 15% dari seluruh
emisi gas rumah kaca (GRK). Megurangi emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan
oleh kegiatan pertanian perlu dilakukan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan
seperti pemanfaatan lahan terbuka dengan vegetasi permanen atau campuran/agroforestry,
diterapkannya secara luas sistem pertanian organic untuk berbagai komoditi
pertanian serta diterapkannya secara luas perakitan teknologi pertanian dan
agroindustri yang ramah lingkungan dalam kegiatan pertanian.
1.2 Tujuan
1.
Mengetahui emisi CO2 ke atmosfer
2.
Memahami pentingnya pengelolaan tanah serta kandungan yang ada d
tanah tersebut
3.
Mengetahui sebab akibat meningkatnya kadar nitrat dalam pemberian
pupuk
4.
Memahami salah satu penyebab permasalahan pemanasan global
1.3 Rumusan Masalah
1.
Apakah benar dengan penurunan biomassa, atau peningkatan mineralisasi/dekomposisi
bahan organik tanah, menjadi sebab penting meningkatnya emisi CO2 ke atmosfer ?
2.
Apakah pengelolaan tanah yang dipersawahkan/tanah sawah, atau juga tanah-tanah
rawa menjadi sumber utama gas methan/CH4 ?
3.
Apakah kegiatan pemupukan (terutama Nitrogen) baik pupuk kimia, pupuk
organik dan bahan organik tanah, menjadi sebab meningkatnya kadar nitrat yang
diduga kuat sebagai sumber gas N2O ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pemanasan Global
Pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang
panjang matahari (infra merah atau gelombang panas) yang dipancarkan oleh bumi,
sehingga tidak dapat lepas ke angkasa dan akibatnya suhu di atmosfer bumi
meningkat.
Gas-gas rumah kaca yang dinyatakan paling berkontribusi terhadap
gejala pemanasan global adalah karbon dioksida (CO2), methan (CH4), dinitro
oksida (N2O), perfluorkarbon (PFC), hidrofluorkarbon (HFC), dan
sulfurheksfluorida (SF6). Dalam konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim (United
Nation Framework Convention On Climate Change-UNFCCC), selain enam
jenis yang digolongkan sebagai GRK ada beberapa gas yang juga termasuk dalam
GRK yaitu karbonmonoksida (CO), nitrogen oksida (NOX), clorofluorocarbon (CFC),
dan gas-gas organik non metal volatil lain.
Tiga jenis gas yang paling utama sering disebut gas rumah kaca
(GRK) adalah (CO2), (CH4) dan (N2O), karena dianggap sebagai lapisan gas yang berperan
sebagai perangkap gelombang panas dan akhir-akhir ini konsentrasinya di
atmosfer terus meningkat sampai dua kali lipat (IPCC, 2001). Ketiga jenis GRK
tersebut mempunyai masa hidup cukup panjang, seperti gas CO2 merupakan gas yang
paling pesat laju peningkatannya dan masa hidup paling panjang (5-200 th),
diikuti gas N2O (114 th) dan CH4 (12-17 th). Dari ketiga GRK, gas N2O mempunyai
kemampuan radiasi 200 kali lebih besar disbanding CO2 (Myrold, 1999). Oleh
karena itu N2O merupakan GRK utama yang menjadi penyebab pemanas global
(Majumdar et al., 2000)
Di Indonesia kontribusi terbesar GRK berasal dari karbondioksida,
metan dan dinitrogen oksida. Bagian terbesar emisi ini dihasilkan oleh sektor
kehutanan (khususnya karena deforestasi) dan energi. Gas terbesar kedua dalam mempengaruhi
pemanasan global adalah gas metan yang mayoritas berasal dari sektor pertanian
termasuk didalamnya kegiatan peternakan.
Hasil penelitian PPLH-IPB (1997) menyatakan bahwa secara sektoral,
kehutanan merupakan
penyumbang emisi GRK terbesar di Indonesia. Pada tahun 1990, sektor kehutanan
dan tata guna lahan menghasilkan 42,5 % dari total emisi GRK, sedangkan sektor
pertanian menyumbang 99.515,24 Gg CO2-eq atau setara dengan 13,4 % dari
keseluruhan emisi GRK.
Selain sebagai salah satu sektor yang menyebabkan dampak perubahan iklim
karena menyumbang emisi GRK, sektor pertanian juga terkena dampak dari perubahan
iklim tersebut. Salah satu dampak besar adalah perubahan siklus musim kemarau
dan penghujan, dan perubahan curah hujan. Kedua perubahan ini akan menimbulkan
potensi tingginya kegagalan panen, selain itu petani akan kesulitan untuk
menentukan waktu memulai bercocok tanam karena ketidakpastian musim kemarau dan
musim hujan.
Dampak lain adalah tingginya erosi tanah karena curah hujan yang
tinggi. Asian Least-cost Greenhouse Gas Abatement Strategy (ALGAS) tahun 1998 melaporkan
hasil penelitian dari ADB (Asian Development Bank) tentang adanya penurunan
hasil tanaman dataran tinggi seperti kedelai dan jagung sebanyak 20% dan 40%,
dan padi sebanyak 2,5% karena erosi tanah akibat curah hujan yang tinggi.
Dampak ekonomi dari penurunan hasil tanaman tersebut adalah kerugian sebesar 42
billiun rupiah pertahunnya. (Anonim, 2007)
2.2 Kesuburan Tanah
Kesuburan tanah adalah Suatu keadaan tanah
dimana tata air, udara danunsur hara dalam keadaan cukup seimbang dan
tersedia sesuai kebutuhan tanaman, baik fisik, kimia dan biologi tanah (Syarif Effendi, 1995).
Kesuburan tanah adalah kondisi suatu tanah yg mampu menyediakan
unsur hara essensial untuk tanaman tanpa efek racun dari hara yang ada
(Foth and Ellis ;1997). Menurut Brady,
kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk menyediakan unsur hara essensial dalam jumlah dan
proporsi yang seimbang untuk pertumbuhan.
Tanah
yang subur adalah tanah yang mempunyai profil yang dalam(kedalaman
yang sangat dalam) melebihi 150 cm, strukturnya gembur remah, pH 6-6,5, mempunyai
aktivitas jasad renik yang tinggi (maksimum). Kandungan unsur haranya yang tersedia bagi tanaman adalah cukup
dan tidak terdapat pembatas- pembatas tanah untuk pertumbuhan tanaman
(Sutejo.M.M, 2002).
2.3 Pengelolaan
Lahan
Pada skala global, pengelolaan lahan untuk pertanian telah
berkontribusi sekitar 15% dari seluruh emisi gas rumah kaca (GRK). Dan saat ini
diperkirakan sepertiga dari semua emisi karbon berasal dari alih fungsi lahan
(penebangan hutan, perubahan pertanaman dan intensifikasi pertanian), sedang
dua pertiga emisi methan dan sebagian besar nitrogen dioksida juga berasal dari
budidaya di sektor pertanian yang lain. Menurunnnya fungsi ekosistem tersebut
akan menurunkan produksi tanaman dan kualitas lingkungan.
Secara khusus, sumber emisi GRK dari kegiatan di sektor pertanian dapat
dicermati dari penyebab dan proses terjadinya :
1. Pengelolaan lahan
untuk pertanian.
a.
Pengelolaan lahan
pertanian secara Intensif baik monokultur maupun polikultur (agroforestry)
berdampak terhadap perubahan fungsi ekosistem terutama melalui penurunan kandungan
bahan organik tanah/BOT. Semakin intensif suatu sistem penggunaan lahan maka
semakin rendah cadangan C nya (Hairiah, 2005). Konversi ekosistem alami menjadi
lahan pertanian biasanya menyebabkan penurunan cadangan C dan selanjutnya akan
mempengaruhi biodiversitas dalam tanah (Hairiah, 2005). Knorr et al.
(2005) menyatakan bahwa peningkatan suhu yang ditimbulkan oleh perubahan fungsi
ekosistem akan menyebabkan mikroorganisme tanah lebih cepat dalam menguraikan
bahan organik serta melepaskan karbon dioksida (CO2).
Masih menurut
(Hairiah, 2005) pembukaan lahan dengan menebangi pohon-pohon ikut
meningkatkan jumlah CO2 karena menurunkan penyerapan CO2, dan dekomposisi dari
tumbuhan yang telah mati juga meningkatkan jumlah CO2.
Agus dan Van
Noordwijk (2007) dalam Hairiah, (2007) melaporkan bahwa pembakaran
hutan alami pada lahan gambut menyebabkan pelepasan CO2 sebanyak 734 ton ha-1 yang
berasal dari C yang tersimpan di vegetasi sebasar 200 ton ha-1. Tetapi jumlah
tersebut mungkin masih lebih rendah dari jumlah CO2 yang diemisikan sebenarnya,
karena selama pembakaran hutan lapisan atas gambut juga terbakar dan melepaskan
CO2. Seandainya gambut yang terbakar setebal 10 cm, maka akan terjadi
penambahan emisi CO2 sebesar 220 ton ha-1 karena tanah gambut mengandung C
sekitar 6 ton ha-1 cm-1.
Pada lahan-lahan
pertanian (tanaman semusim), kehilangan karbon tanah terjadi karena adanya
pengolahan tanah. Kegiatan pengelolaan seperti pengairan dan pemupukan dapat
meningkatkan cadangan karbon dalam biomasa tanaman dan tanah berubah. Dari data
yang ada, peningkatan lepasnya CO2 ke atmospher antara lain disebabkan oleh
kegiatan manusia dalam pengelolaan lahan pertaniannya.
b.
Pengelolaan lahan
untuk pertanian menjadi sumber emisi N2O dengan mekanisme pelepasan atom N
untuk bereaksi dengan udara. Tingkat emisi N2O ini akan meningkat apabila
kegiatan pengolahan tanah pada budidaya pertanian tersebut dipupuk dengan pupuk
nitrogen seperti urea. Emisi N2O dari tanah karena penggunaan pupuk kimia
nitrogen yang terdapat pada pupuk urea dan ammonium sulfat menjadi N2O dan NO2 dengan
tingkat emisi 1 dan 1,57% (Ecosolve, Ltd., 2002). Pada tahun 1998/1999 emisi nitrogen
dari penggunaan pupuk kimia di Indonesia sebesar 14,15 Gg N2O dan 22,23 Gg NO2.
2. Budidaya padi (khusus
untuk budidaya padi sawah)
Budidaya padi sawah
berkontribusi pada peningkatan emisi GRK berupa gas methan (CH4) dan N2O.
Berdasarkan laporan ADB-GEF-UNDP/ALGAS tahun 1998 padi sawah menyumbang 76%
dari total gas methan (CH4) yang diemisikan dari sektor pertanian. Hal ini
lebih disebabkan oleh kondisi anaerobik pada lahan sawah akibat penggenangan
air yang terlalu tinggi dan lama.
Dilaporkan, pulau Jawa memberikan kontribusi dalam emisi gas methan
sebesar 58% dari pola penggunaan lahan untuk padi sawah (Anonim, 2007).
2.4
Pengelolaan lahan
dalam upaya menekan Emisi GRK
Beberapa alternatif
pengurangan emisi GRK dari kegiatan pengelolaan lahan untuk budidaya pertanian,
antara lain :
a.
Pengelolaan tanah
Pengelolaan tanah berkaitan dengan manajemen kesuburan tanah yang diupayakan
dengan cara penggunaan bahan organik (kompos) sebagai pupuk, diharapkan dapat
mengurangi emisi CH4 dan CO2 (misal pengolahan kompos dari limbah pertanian dan
agroindustri untuk pupuk).
Melakukan pemanfaatan input dari sumber daya lokal, maupun penerapan
pengolahan tanah minimum, akan berdampak positif, khususnya dalam hal
pengurangan emisi CO2.
Multi guna lahan yang mampu memberikan produksi biomasa sehingga dapat
meningkatkan cadangan karbon dan sekaligus menghasilkan energi. Energi biomasa
dapat diproduksi secara terus menerus dengan menanam dan memanen pada kegiatan
usaha pertanian. Pengembangan teknologi untuk produksi energi biomasa yang
efisien sangat penting untuk menekan biaya usaha dan menjamin lahan untuk tidak
dialih-gunakan ke usaha lain. Hairiah (2007), mengemukakan bahwa cara
pengelolaan paska pembakaran (terutama berhubungan dengan pengeringan dan
pengolahan tanah) sangat mempengaruhi besarnya emisi CO2 berikutnya. Lebih
lanjut Hairiah,(2007), menjelaskan bahwa pembuatan saluran drainase sedalam 80
cm pada kebun sawit, diestimasi akan mengemisikan CO2 sebanyak 73 ton ha-1 th-1.
Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa dalam satu siklus tanam sawit (25 tahun)
akan mengemisikan CO2 sebanyak 1820 tonha-1. Suatu jumlah pelepasan yang sangat
besar, yang mungkin terlewatkan dalam penghitungan neraca C di skala global
saat ini.
Upaya pengelolaan lain seperti mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis
dengan mengganti pupuk organik, diharapkan dapat mengurangi emisi N2O dan NO2 .
Hasil penelitian Minardi dan Purwanto (2009) dalam merakit teknologi pemilihan
seresah yang berkualitas untuk mengendalikan proses nitrifikasi dan pelindian
NO3-, terbukti bahwa seresah kualitas rendah mampu menekan peningkatan
konsentrasi NH4+, nitrifikasi potensial dan pelepasan NO3- yang diduga kuat
sebagai sebagai sumber gas N2O melalui penghambatan nitrifikasi.
Pupuk kimia sintetis (contoh pupuk urea yang jelas-jelas
menyebabkan emisi metan), terutama pada pemupukan N perlu diupayakan penggunaan
pupuk berbahan dasar ammonium lain, seperti sulfic-ammonium ([NH3]2SO4) yang
tetap dapat menjaga produktivitas tanaman namun rendah emisi metan. Upaya lain
yang saat ini dilakukan dalam menekan gas metan pada bididaya padi sawah adalah
dengan penggunaan pupuk hayati. Dilaporkan pupuk hayati dengan kandungan
bakteri metanotropik mampu mengkonsumsi atau mengoksidasi gas methan menjadi
metanol. Pengaturan terhadap tinggi genangan dan lamanya pemberian air pada
budidaya padi sawah agar aktivitas bateri anaerob yang memproduksi gas methan
dapat dikurangi.
b.
Pemilihan varietas
Penggunaan varietas yang unggul dan adaptif terhadap praktek
pertanian terpadu akan mengurangi input pupuk kimia. Aktivitas ini akan
mengurangi emisi N2O dari pupuk kimia dengan tetap mempertahankan kualitas produk
pertanian.
c.
Pemanfaatan limbah
pertanian
Limbah pertanian dihasilkan dari kegiatan budidaya (on-farm) dan
pengolahan hasil (off-farm).diupayakan agar dapat dimanfaatkan sebagai pakan
ternak, biogas, pupuk organik dan bahan bakar nabati (biomass), karena Limbah
pertanian yang tidak dikelola dengan baik akan mengemisi gas CH4, CO, N2O dan
NOX.
2.5 Indikator Kesuburan Tanah
1.
Kapasitas Absorbsi
Kapasitas Absorbsi dihitung dengan milli equivalent, adalah
kemampuantanah untuk mengikat/ menarik suatu kation oleh partikel-partikel
kolloid tanah(partikel kolloid itu terdiri
dari liat dan organik), dan ini secara langsungmencerminkan kemampuan tanah melakukan aktifitas pertukaran hara dalam bentuk
kation.
2.
Tingkat Kejenuhan Basa
nilainya dalam bentuk persen, mencerminkan akumulasi
susunan kation.Peningkatan nilai persen kejenuhan basa mencerminkan
semakin tingginyakandungan basa-basa tanah pada posisi nilai pH
tanah yang menyebabkan nilaikesuburan kimiawi optimal secara menyeluruh.
3. Kandungan Liat
Kandungan liat, merupakan ukuran kandungan partikel
kolloid tanah.Partikel dengan ukuran ini (kolloid) akan mempunyai luas permukaan
dan ruang pori tinggi sehingga mempunyai kemampuan absorbsi juga tinggi
serta diikutikemampuan saling tukar yang tinggi pula diantara partikel kolloid.
4.
Kandungan Bahan Organik
Kandungan bahan organik yang cukup di dalam tanah dapat memperbaikikondisi tanah agar tidak terlalu berat dan tidak
terlalu ringan dalam pengolahantanah. Berkaitan dengan pengolahan tanah, penambahan
bahan organik akanmeningkatkan kemampuannya untuk diolah pada lengas
yang rendah. Di sampingitu, penambahan
bahan organik akan memperluas kisaran kadar lengas untuk dapatdiolah dengan alat-alat dengan baik, tanpa banyak
mengeluarkan energi akibat perubahan kelekatan tanah terhadap alat.
2.5
Faktor
yang Mempengaruhi Unsur Hara Tanah
a.
Tekstur Tanah
Tekstur tanah ditentukan oleh jumlah relatif oleh berbagai ukuran
partikelyang menyusun tanah. Partikel tanah dibagi dalam tiga kategori yaitu
partikel yang paling halus kemudian debu dan pasir. Proporsi pasir, debu
dan liat menentukantekstur. Tekstur tanah mempunyai efek terhadap sifat fisik
dan kimia tanah. Secaraumum partikel halus memiliki luas permukaan lebih besar
dibanding tekstur kasar.Permukaan partikel tanah adalah aktif secara kimiawi.
Tanah dengan tekstur halusmemiliki aktivitas kimiawi lebih baik dibanding tanah
dengan tekstur kasar, dandapat mengikat lebih
banyak hara serta lebih banyak mengikat nutrien yangmenjadikannya tidak tersedia bagi tanaman.
b.
Bahan Organik
Bahan organik merupakan sumber energi bagi
makro dan mikro-fauna tanah. Penambahan
bahan organik dalam tanah akan menyebabkan aktivitas dan populasi mikrobiologi dalam tanah meningkat, terutama yang berkaitan dengan aktivitasdekomposisi
dan mineralisasi
bahan
organik.
c. pH Tanah
pH tanah menerangkan keasaman dan kebasaan dalam sistem cair. Air
terdiridari muatan molekul atau ion
hidrogen (H+) dan hidroksida (OH-).
Dalam air selaluada ion-ion yang tidak
dikombinasi dalam molekul air. Jumlah air murni, jumlah H+dan OH- sama
yang memiliki pH 7 (netral).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pengurangan dari keseluruhan emisi GRK yang meliputi CH4, N2O dan
CO2 yang ditimbulkan oleh kegiatan pertanian perlu dilakukan. Prioritas utama pengurangan
GRK pertanian adalah emisi gas metan karena berdasarkan hasil inventarisasi
GRK, pada tahun 1990 emisi gas metan dari pertanian mencapai 94,4%.
Pengelolaan lahan pada lahan terbuka perlu dilakukan dengan
vegetasi permanen atau campuran/agroforestry, diterapkannya secara luas sistem pertanian
organik untuk berbagai komoditi pertanian (sawah maupun lahan kering),
pengembangan sistem budidaya untuk efisiensi pemupukan dengan penggunaan varietas
yang unggul dan adaptif serta diterapkannya secara luas perakitan teknologi
pertanian dan agroindustri yang ramah lingkungan dalam kegiatan pertanian.
Kesuburan tanah adalah suatu keadaan tanah dimana tata air, udara dan unsur hara dalam keadaan cukup
seimbang dan tersedia sesuai kebutuhan tanaman, baik fisik,kimia dan
biologi tanah
Indikator kesuburan tanah meliputi:
a. kapasitas absorbsi
b. tingkat kejenuhan basa
c. kandungan liat
d. kandungan bahan organic.
Kandungan unsur hara yang terdapat dalam tanah mempunyai pengaruh
yang berbeda-beda terhadap kesuburan tanah sesuai dengan kebutuhan tanah
terhadapunsur hara tersebut.
3.2 Saran
1. Hendaknya manusia mulai menjaga kesuburan alami
tanah, karena aktivitas manusia menjadi salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap kesuburan tanah
2. Petani dan pekerja pada bidang budidaya tanaman
hendaknya memahami konsep dari kesuburan tanah dan menerapkannya dalam pertanian
atau budidaya tanaman.
3. Penggunaan pupuk kimia hendaknya mulai dikurangi,
karena akan mempengaruhi komposisi unsur hara tanah, akibatnya akan menjadi racun bagi
tumbuhan padatanah itu sendiri karena hara
tanah mulai tidak seimbang.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007. Agenda
Nasional (2008-2015) dan Rencana Aksi (2008-2009) Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca
Sektor Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.
Ecosolve Ltd.,2002.
Climate Change Challenge Fund. Final Report: Eco-Indorganic Project,
Hairiah, K. 2005.
Biodiversitas Tanaman Sebagai Dasar Menuju Pertanian Sehat. Makalah Seminar
Nasional Dies Natalis ke 29 UNS. Fakultas Pertanian UNS. Surakarta.
…………. 2007.
Perubahan Iklim Global: Pemicu terjadinya peningkatan GRK (Modul 3). Jurusan
Tanah, Fakultas Pertanian. Unibraw. Malang.
Knorr, W., I. C.
Prentice, J. I. House dan E. A. Holland, 2005. Long-term sensitivity of soil
carbon turnover to warming. Nature Vol.433, 20 January 2005, 204-205
Mayumdar,D.,
Kumar,S., Kumar,U. 2000. Reducing nitrous oxide emission from an irrigated rice
field of North India with nitrification inhibitors. Agriculture, Ecosystems
and Environment. 81(3). 163-169.
Myrold,D.D. 1999.
Transformation of Nitrogen. In: Principles and Application of Soil
Microbiology. Sylvia,DM; Jeffry,JF; Peter,GH and David AZ (eds.) Prentice
hall, New Jersy. 259-294.
Minardi, S dan
Purwanto, 2009. Perakitan teknologi untuk peningkatan efisiensi pemanfaatan
nitrogen oleh tanaman dengan penghambat nitrifikasi secara hayati. Hibah
Strategi Nasional (Batch 1) Tahun 1 LPPM UNS.DP2M Ditjen Dikti.
IPCC, 2001. Climate
change 2001 : Impacts, adaption and vulnerability. Report of the working group
l. Cambridge University Press. UK.p,967.
Sutejo.M.M,
2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta: Rineka Cipta.
Foth,
H. D., 1994. Dasar Ilmu Tanah. Terjemahan: Adisoemarto. Jakarta: Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar